4. Pengelolaan dan Pemantauan HCV / NKT
Pengelolaan dan pemantauan HCV (High Conservation Value) atau NKT (Nilai Konservasi Tinggi) di areal PT. Suka Jaya Makmur dengan hasil secara keseluruhan masih sesuai kriteria atau ambang yang diperbolehkan (stabil) sehingga tidak memerlukan perubahan rencana kerja areal atau wilayah HCV yang dikelola, kondisinya aman dan terkendali serta tidak terganggu oleh aktivitas ilegal manusia dan kebakaran.
5. Analisis Cuaca
Monitoring dan analisis cuaca dilaksanakan di lokasi peletakan umbrometer di camp Gunung Bunga selama 1 tahun yaitu 1 Januari – 31 Desember 2025 dengan hasil curah hujan total 3.250,08 Mm / tahun. Suhu udara 24,97 °C pagi hari, 31,19 °C siang hari dan 32,03 °C sore hari. Kelembaban udara 97,92% pagi hari, 85,81% siang hari dan 84,93% sore hari. Indeks erosivitas hujan (EI30) 2,82 yang termasuk kategori Rendah. Indeks ini dipengaruhi oleh jumlah curah hujan rata–rata, jumlah hari hujan dan curah hujan maksimum. Klasifikasi iklim menurut Schmidt & Ferguson (1951) adalah tipe A dengan kategori sangat basah (very wet) dengan jumlah 12 bulan basah (BB), 0 bulan lembab (BL) dan 0 bulan kering (BK). Nilai Q 0,000 yaitu hasil pembagian BK : BB. Ini berarti selama kegiatan pemanfaatan hasil hutan di areal PT. Suka Jaya Makmur tidak berdampak mengubah Tipe Iklim.
6. Analisis Erosi
Monitoring dan analisis erosi dilaksanakan pada 3 blok eks tebangan yaitu blok eks tebangan 1 tahun (ET+1), blok eks tebangan 2 tahun (ET+2) dan blok eks tebangan 3 tahun (ET+3) menggunakan metode stick erosi yang diukur 2 kali pada akhir bulan Juni dan Desember selama periode 1 Januari s/d 31 Desember 2025, dengan hasil erosi secara keseluruhan di areal PT. Suka Jaya Makmur rerata erosi tanah potensial yang terjadi adalah 36,98 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, terdiri dari Erosi tanah potensial yang terjadi pada lokasi eks tebangan 1 tahun (Et+1) adalah 42,47 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, pada lokasi eks tebangan 2 tahun (Et+2) adalah 36,82 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan dan pada lokasi eks tebangan 3 tahun (Et+3) adalah 31,65 Ton/Ha/Thn dengan TBE Ringan. Terjadinya penurunan erosi tanah dan penurunan kategori TBE disebabkan adanya kegiatan penanaman/rehabilitasi dan pengelolaan lingkungan.Erosi terkecil terjadi pada lokasi plot vegetasi alam eks tebangan yaitu 19,11 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, hal ini disebabkan perubahan vegetasi hanya terjadi pada saat kegiatan penebangan, setelah itu nyaris tidak dipengaruhi kegiatan lain yang bersifat membuka hutan lagi sehingga keterbukaan hutan eks tebangan relatif kecil. Erosi terbesar pada lokasi jalan logging yaitu 45,97 Ton/Ha/Thn dengan kategori TBE Ringan, hal ini karena pada awalnya jalan logging merupakan areal yang terbuka tanpa penutupan vegetasi secara langsung terutama setelah penebangan atau Et+1. Oleh sebab itu jika terjadi hujan, maka titik–titik air hujan akan langsung mengerus tanah yang ada di jalan logging. Namun erosinya semakin berkurang setelah Et+2 dan Et+3 karena sudah ditumbuhi tanaman cover crop dan vegetasi berkayu lainnya. Untuk mengurangi laju erosi dan tingkat bahaya erosi (TBE) maka sebaiknya melakukan tindakan pengelo-laan lingkungan antara lain pembuatan trap-trap erosi, sodetan-sodetan jalan sarad, penanaman fast growing species, sungkai dan cover crop serta pembersihan jalur tanam semak–semak atau tumbuhan bawah terutama serasah dijadikan mulsa untuk mengurangi laju erosi dan menjaga kelem-baban. Erosi yang terjadi di areal PT. Suka Jaya Makmur termasuk kategori TBE Ringan yang mengindikasikan bahwa selama kegiatan pemanfaatan hasil hutan di areal PT.Suka Jaya Makmur tidak berdampak merusak secara signifikan.
7. Identifikasi Potensi Bahaya Alam
Berdasarkan hasil identifikasi potensi bahaya alam meliputi kebakaran hutan, banjir, angin topan/badai/angin puting beliung, tanah longsor serta wabah hama dan penyakit di areal PT. Suka Jaya Makmur secara keselu-ruhan potensinya termasuk dalam Kategori Rendah dan Sangat Rendah serta tidak ada kejadian bencana alam dalam kurun waktu 5 tahun terakhir.
8. Analisis Kualitas Air Sungai
Monitoring dan analisis kualitas air sungai dilaksanakan pada 4 lokasi yaitu Sungai Kemekar, Ewat, Batang Kawa dan Tigal dengan hasil sebagai berikut: Debit air sungai berkisar 3.147−9.338 Liter/Detik dan rerata keseluruhan debit air sungai 6.043 Liter/Detik serta tidak terjadi fluktuasi debit air yang ekstrim, sungai dalam kondisi normal dan terkendali. Sedimentasi sungai berkisar 4,29−11,77 Ton/Tahun dan rerata keseluruhan sedimentasi 7,41 Ton/Tahun, yang tergolong dalam kondisi normal/rendah, sesuai hasil uji laboratorium nilai TSS termasuk dalam Kelas I Baku Mutu Air Sungai. Kualitas air semua sungai secara umum semua parameter sifat fisika dan kimia air TSS, TDS, pH, DO termasuk dalam Baku Mutu Air Kelas I dan hanya BOD, COD Kelas III-IV berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup pada Lampiran VI. Kesimpulan Debit air, sedimentasi dan kualitas air sungai termasuk kategori normal/wajar yang mengindikasikan bahwa kegiatan pemanfaatan hasil hutan di dalam areal konsesi PT Suka Jaya Makmur tidak berdampak merusak secara signifikan.
9. Analisis Udara Ambien dan Kebisingan
Monitoring dan analisis udara ambien dan kebisingan dilaksanakan di Camp Sei Tigal dengan hasil sebagai berikut: Udara ambien dengan 10 parameter uji hasilnya semuanya dibawah ambang batas baku mutu yang diperkenankan sesuai Lampiran VII. Baku Mutu Udara Ambien berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, maka udara ambien di areal PT Suka Jaya Makmur dalam kondisi sehat dan berkualitas baik serta memenuhi standar mutu yang berlaku. Tingkat kebisingan masih dibawah ambang batas baku mutu yang diperkenankan sesuai Lampiran I. Baku Mutu Kebisingan berdasarkan Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor Kep-48/MENLH/11/1996 Tahun 1996 tentang Baku Mutu Tingkat Kebisingan. Kesimpulan Udara ambien dan kebisingan termasuk kategori sehat dan normal/wajar yang mengindikasikan bahwa kegiatan pemanfaatan hasil hutan di areal PT Suka Jaya Makmur tidak berdampak merusak secara signifikan.
10. Monitoring Ikan
Monitoring ikan dilaksanakan pada 11 sungai yang ada di dalam areal hasil-nya terdapat 55 jenis dan 15 family ikan, yang semuanya tidak termasuk jenis ikan yang dilindungi oleh peraturan nasional (Government Regulations, GoR) yaitu Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 dan Peraturan Men-teri LHK Nomor P.106 Tahun 2018 maupun peraturan internasional yaitu CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora) https://www.cites.org dan IUCN (International Union for Conservation of Nature and Natural Resources) https://www.iucnredlist.org.
11. Monitoring dan Pengendalian Tanaman Eksotik Invasif
Monitoring tanaman eksotik invasif jenis akasia (Acacia mangium) dilaksa-nakan pada 6 lokasi penyebaran dengan cara memantau dan pengendalian berupa pemusnahan. Cara pengendalian (pemusnahan) pada tingkat pohon dan tiang ditebang menggunakan chainsaw, tingkat pancang ditebas meng-gunakan parang dan tingkat semai dicabut manual. Jumlah total pengenda-lian (pemusnahan) tanaman akasia sebanyak 1.188 batang atau 98,75% dari total 1.203 batang, terdiri dari 29 batang pohon, 118 batang tiang, 785 batang pancang dan 256 batang semai.
12. Analisis Vegetasi dan Satwa di Sempadan Sungai Senokan
Analisis vegetasi dan identifikasi satwa dilaksanakan di sempadan Sungai Merurung Petak CC.70,71 Blok RKT 2025/2024 CO dengan plot sampling di kiri hulu dan kanan hilir sungai, total plot ukur 200 PU dan panjang transek 4,0 Km dengan hasil sebagai berikut: Jumlah jenis vegetasi tingkat pohon (tree) 63 jenis, tiang 35 jenis, pancang 16 jenis, semai 14 jenis dan semua tingkatan 67 jenis. Sedangkan potensi atau kerapatan vegetasi komersil pada tingkat pohon 69 btg/Ha, tiang 173 btg/Ha, pancang 1.388 btg/Ha dan semai 7.350 btg/Ha yang semuanya memenuhi syarat kecukupan permuda-an tegakan tinggal yaitu jumlah pohon komersil minimal 25 batang/Ha, tiang 75 btg/Ha, pancang 240 btg/Ha dan semai 1.000 btg/Ha. Berdasarkan nilai INP jenis vegetasi yang sangat berperan/berpengaruh di komunitasnya dari tingkat pohon sampai dengan semai adalah jenis medang, meranti merah, tengkawang dan ubar, sedangkan jenis lainnya turut mendominasi cukup berperan pada sebagian tingkatan vegetasi namun tidak keseluruhan. Indeks Dominasi (C) vegetasi tingkat pancang dan semai, pola penyebaran jenis lebih terpusat/mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis saja, sedangkan vegetasi tingkat tiang dan pohon pola penyebaran jenisnya lebih tersebar,tidak terpusat/mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh bebera-pa jenis. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) atau Biodiversity pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai H’ > 3 termasuk kategori Tinggi, artinya keanekaragaman jenis vegetasinya sangat banyak dalam komunitas vegetasi. Indeks Kemerataan / Kelimpahan (Equtability / Evennes) atau (E) pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai E > 0,6 termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis pada semua tingkatan vegetasi tersebar merata dalam komunitas. Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1) semua tingkatan vegetasi dari tingkat pohon, tiang, pancang dan semai ter-masuk kategori Tinggi, artinya kekayaan jenis vegetasinya banyak didalam komunitas.Jenis–jenis vegetasi yang dilindungi oleh peraturan nasional-GoR (PP.7 dan P.106) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 16 jenis, terdiri dari 15 jenis yang dilindungi IUCN (1 jenis CR, 1 EN, 13 VU), tidak ada jenis dilindungi CITES dan 1 jenis dilindungi berdasarkan PP.7 atau GoR. Jenis vegetasi berkayu dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis terdapat 1 jenis yaitu mayau (Shorea palembanica) dari famili Dipterocarpaceae dengan INP > 1. Jumlah jenis tumbuhan buah sebagai sumber pakan bagi satwa liar ditemukan sebanyak 28 jenis atau 42% dari total 67 jenis vegetasi. Jumlah jenis vegetasi nir-kayu jenis anggrek 9 jenis, palem 8 dan kantong semar nihil. Sedangkan kerapatan atau potensi vegetasi pada anggrek 12,63 N/Ha, palem 6,50 N/Ha dan kantong semar nihil. Jenis anggrek didominasi 5 jenis yang sangat berperan yaitu anggrek bawang, anggrek bintang, anggrek hitam, bayungan sisandah dan anggrek tebu, sedangkan palem dikuasai 5 jenis yaitu rotan manau, rotan sega, daun payung/daun sang gajah, rotan umbut dan rotan kumis harimau/lilin. Indeks Dominasi (C) pada anggrek dan palem menunjukan bahwa pola penyebaran vegetasi jenisnya lebih terpusatkan atau mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) / Biodiversity pada anggrek dan palem memiliki keanekaragaman jenis kategori Sedang artinya mempunyai keanekaragaman jenis yang cukup banyak dalam komunitas vegetasi. Indeks Kemerataan Jenis / Kelimpahan Jenis (E) (Equtability / Evenness) jenis anggrek dan palem mempunyai nilai kemerataan atau kelimpahan jenisnya termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis anggrek dan palem tersebar merata dalam komunitas vegetasi. Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1) vegetasi anggrek dan palem termasuk kategori Rendah, yaitu sedikit jenisnya di dalam komunitas vegetasi. Jenis–jenis vegetasi nir-kayu yang dilindungi oleh peraturan nasional-GoR (PP.7 dan P.106) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 7 jenis, terdiri dari 6 jenis anggrek dan 1 jenis palem, yang semuanya dilindungi peraturan nasional-GoR, 1 jenis dilindungi CITES dan tidak ada yang dilindungi IUCN. Ke 7 jenis yang dilindungi GoR (PP.7 dan P.106) adalah anggrek bulan Kalbar (Paraphalaenopsis serpentilingua), anggrek ekor tikus/bulan bintang (Paraphalaenopsis denevei), anggrek hitam (Coelogyne pandurata), anggrek jingga (Renanthera matutina), anggrek sendok (Spathoglottis zurea), anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), daun payung / daun sang gajah (Johannesteijsmannia altifrons). Terdapat 1 jenis anggrek ekor tikus/bulan bintang dilindungi CITES dan tidak ada jenis dilindungi IUCN. Jenis vegetasi nir-kayu dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis tidak ada pada lokasi Sempadan Sungai Merurung. Identifikasi satwa keseluruhan terdapat 52 jenis terdiri dari 22 jenis mamalia, 19 jenis burung dan 11 jenis herpetofauna, dengan estimasi densitas satwa keseluruhan 9,51 individu/Ha terdiri dari densitas mamalia 3,40 individu/Ha, burung 4,62 individu/Ha dan herpetofauna 1,49 individu/Ha. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) semua kelompok satwa dari mamalia, burung dan herpetofauna serta keseluruhan satwa termasuk kategori Tinggi, artinya jumlah jenis satwa sangat banyak keanekaragaman jenisnya di dalam komunitas hutan. Indeks Kemerataan Jenis (E) semua kelompok satwa dari mamalia, burung dan herpetofauna serta keseluruhan satwa termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis satwa hidupnya tersebar merata dalam komunitasnya di dalam areal hutan. Indeks Kekayaan Jenis (R1) dari kelompok mamalia dan burung serta keseluruhan termasuk kategori Tinggi, artinya kelompok satwa tersebut sangat kaya jenisnya dalam komunitas, sedangkan pada herpetofauna termasuk kategori Sedang, artinya kekayaan jenis cukup banyak yang tercatat pada komunitas di dalam areal hutan. Jumlah keseluruhan satwa yang dilindungi berdasarkan jenis ada 34 jenis yaitu pada kelompok mamalia 17 jenis (terdiri dari 8 jenis dilindungi IUCN, 8 jenis dilindungi CITES dan 15 jenis dilindungi GoR); kelompok burung 11 jenis (terdiri dari 5 jenis dilindungi IUCN, 6 jenis dilindungi CITES dan 9 jenis dilindungi GoR); kelompok herpetofauna 6 jenis (1 jenis dilindungi IUCN, 6 jenis dilindungi CITES dan 1 jenis dilindungi GoR). Sedangkan berdasarkan peraturan nasional dan international, terdapat 14 jenis dilindungi IUCN, 20 jenis dilindungi CITES dan 25 jenis dilindungi GoR (terdiri dari 23 jenis dilindungi PP.7 dan 18 jenis dilindungi P.106). Jenis satwa dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis terdapat 2 jenis yaitu rangkong gading/tajak (Rhinoplax vigil) dan trenggiling (Manis javanica)
13. Kajian Dampak Lingkungan Pembuatan Jalan-Jembatan
Kajian dampak lingkungan pembuatan jalan dan jembatan (PWH) dilaksana-kan disekitar sempadan Sungai Kemekar pada petak WW.41 Blok RKT 2026 dengan hasil sebagai berikut :
1. Dampak Fisik-Kimia
a. Keterbukaan Tanah
Dampak kegiatan PWH terhadap tanah adalah keterbukaan tanah pada badan jalan secara permanen selebar 8 meter di jalan cabang. Persenta-se keterbukaan areal berdasarkan perhitungan rumus Elias adalah ATJH 0,38% yang merupakan nilai Sangat Baik karena masih dibawah 10% dan berdasarkan perhitungan rumus Backmund, kualitas PWH (E) adalah 73,40% berarti keterlayanan jariangan jalan hutannya sebesar 73,40% yang berada dalam interval 70% < E < 75% sehingga termasuk kategori Baik.
b. Pemadatan Tanah
Dampak terhadap pemadatan tanah bersifat positif penting karena pema-datan tanah pada badan jalan dan keterbukaan tanah yang dibuat oleh kegiatan PWH dapat mempermudah aksesibilitas dalam pengelolaan hutan dan masyarakat lokal.
c. Erosi
Dampak terhadap erosi pada 4 lokasi yaitu eks jalan sarad, eks tebangan bervegetasi, eks TPN dan jalan logging, yang terjadi selama 4 tahun terakhir adalah pada lokasi eks jalan sarad 50,46 Ton/Ha/Thn, lokasi eks tebangan bervegetasi 25,41 Ton/Ha/Thn, lokasi eks TPN 43,50 Ton/Ha/Thn dan lokasi jalan logging atau jalan cabang 53,14 Ton/Ha/Thn. Dari erosi yang terjadi, diketahui pada lokasi jalan logging mengalami erosi terbesar, kemudian berikutnya pada lokasi eks jalan sarad, lokasi eks TPN dan nilai erosi terkecil pada lokasi eks tebangan atau areal bervegetasi/berhutan. Pada semua lokasi nilai erosinya dibawah 60 Ton/Ha/Thn maka tingkat bahaya erosinya (TBE) termasuk kategori Ringan (Rendah) yang masih dibawah ambang batas yang diperkenankan.
d. Air
Pada Sungai Kemekar dan Sungai Tigal sebagai outlet aliran air dari blok RKT 2026 dan 2025 CO bahwa dampak terhadap debit air relatif stabil dalam kurun waktu 4 tahun terakhir. Secara umum, debit air sungai termasuk normal dan belum pernah terjadi debit air yang ekstrim serta belum pernah terjadi banjir besar di lokasi sekitar sungai. Dampak terhadap kualitas air sungai, mempunyai mutu air dibawah ambang batas yang diperkenankan sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 22 Tahun 2021 Tentang Penyelenggaraan Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Secara keseluruhan, hampir semua parameter menunjukan mutu atau kualitas air dalam kategori Kelas I yaitu pada parameter Total Suspended Solid (TSS), Total Dissolved Solid (TDS), pH dan Dissolved Oxygen (DO), sedangkan parameter Biological Oxygen Demand (BOD5) dan Chemical Oxygen Demand (COD) mempunyai kualitas air kategori Kelas II-IV.
2. Dampak Biologi
a. Vegetasi (Flora)
Dampak kegiatan PWH terhadap pohon hilang, relatif kecil. Pohon hilang akibat kegiatan PWH adalah 409 pohon atau 2% dan jumlah pohon penebangan adalah 20.966 pohon atau 98% dari total pohon produksi. Kehilangan pohon akibat kegiatan PWH adalah kehilangan bersifat permanen karena selama badan jalan hutan masih digunakan maka tidak akan ditanam di badan jalan, sedangkan pohon penebangan merupakan kehilangan sementara karena areal hutan akan menumbuhkan kembali lewat suksesi alami atau ditanami pengayaan/rehabilitasi setelah selesai kegiatan produksi.
Dampak terhadap kerusakan vegetasi, Rendah. Kerusakan vegetasi 8,97% termasuk kategori Kerusakan Ringan atau Rendah menurut Elias karena tingkat kerusakan dibawah 25%. Sedangkan menurut Keputusan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No. SK. 9895/MenLHK-PHL/ BPPHH/HPL.3/12/2022 Tanggal 12 Desember 2022 Lampiran 1.1 Tentang Standar dan Pedoman Pelaksanaan Sistem Verifikasi Legalitas dan Kelestarian pada indikator 2.4 verifier 2.4.3 Tingkat Kerusakan Tegakan Tinggal (Semai, Pancang, Tiang, Pohon) dan keterbukaan areal di blok RKT dikelompokan menjadi Nilai Baik bila kerusakan rata-rata semua tingkatan permudaan dan keterbukaan areal < 20%, Nilai Sedang 20% – 30% dan Nilai Buruk > 30%.
Dampak terhadap kondisi vegetasi (flora), relatif stabil. Kondisi vegetasi meliputi jumlah jenis, kerapatan, INP, indeks dominansi (C), indeks keanekaragaman jenis (H’), indeks kemerataan/kelimpahan jenis atau indeks eveness/equitability (E), indeks kekayaan jenis atau Richness (R1) dan status perlindungan. Secara keseluruhan kondisi vegetasi dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, trend memperlihatkan kondisi stabil dan cenderung meningkat atau membaik pada semua kondisi.
b. Satwa (Fauna)
Dampak terhadap kondisi satwa (fauna), relatif stabil. Kondisi satwa meli-puti jumlah jenis, densitas satwa, indeks biodiversity (H’), indeks kemera-taan/kelimpahan jenis (E), indeks kekayaan jenis (R1), jumlah jenis dilin-dungi dan status perlindungan. Secara keseluruhan kondisi satwa (fauna) dalam kurun waktu 4 tahun terakhir, trendnya memperlihatkan kondisi stabil dan cenderung meningkat atau membaik pada beberapa kondisi. Ini menunjukan pengelolaan hutan dilaksanakan secara tepat dengan menerapkan prinsip-prinsip RIL baik pada tahap perencanaan maupun tahap pelaksanaan di lapangan sehingga ekosistem hutan terjaga keles-tariannya yang mendukung hidupan liar didalamnya.
3. Dampak Sosial Ekonomi
a. Tenaga Kerja
Dampak terhadap penyerapan tenaga kerja, fluktuasi turun dan trend menurun drastis terutama tahun 2024-2025. Jumlah tenaga kerja lokal adalah 51 orang (91%), pendatang 5 orang (9%) dari total tenaga kerja 56 orang yang semuanya berstatus ikatan kerja kontrak. Jumlah tenaga kerja tahun 2025 menurun 8% dari tahun sebelumnya. Tenaga kerja perusahaan didominasi tenaga kerja lokal sebesar 91% yang menun-jukan perusahaan berkomitmen mempekerjakan tenaga kerja lokal dalam jumlah sangat dominan pada pemenuhan kebutuhan tenaga kerja sehingga bisa memberikan dampak positif bagi masyarakat lokal.
b. Frekuensi Penjualan
Dampak terhadap penjualan, cenderung menurun sedikit namun tidak signifikan. Frekuensi penjualan masyarakat lokal adalah berkisar 6 – 16 kali dalam sebulan atau rerata 10 kali per bulan. Jumlah frekuensi penjualan masyarakat lokal ini terbilang tinggi, artinya sering terjadi transaksi jual-beli yang terjadi antara masyarakat lokal dengan tenaga kerja di bagian PWH. Selain sistem jual beli secara tunai, masyarakat lokal juga ada melakukan barter hasil alam ditukar dengan barang kebutuhan pokok. Dengan tingginya frekuensi penjualan maka akan meningkatkan pendapatan masyarakat lokal.
c. Adat Budaya
Dampak terhadap aspek budaya, cenderung terjaga dengan baik. Adat budaya masyarakat lokal masih dilaksanakan pada beberapa aktivitas perusahaan, salah satunya selamatan adat di lokasi sungai sebelum dimulai pembuatan jembatan besar, dipimpin demong adat, dihadiri masyarakat, tokoh masyarakat, karyawan dan diakomodasi perusahaan sebagai wujud penghormatan terhadap nilai-nilai adat budaya yang hidup pada masyarakat lokal.
14. Identifikasi Potensi Hama dan Penyakit
Berdasarkan hasil identifikasi jenis hama yang dtemukan di persemaian meskipun dalam jumlah yang sedikit adalah ulat bulu (Macrothylacia rubi) dan belalang daun (Scudderia furcata) dan jenis penyakit yang ditemukan adalah penyakit tumor buah (Fruit tumour disease) yang berbentuk lonjong dan penyakit gaal (Gaal disease) yang bentuknya mirip seperti rambutan. Potensi serangan hama dan penyakit termasuk dalam kategori Sangat Rendah / Rendah yang mengindikasikan bahwa kegiatan pemanfaatan hasil hutan dengan pengelolaan hutan lestari tidak berdampak merusak secara signifikan.
15. Analisis Vegetasi dan Satwa Di Buffer Zone HL Bukit Kerai Kundang
Analisis vegetasi dan identifikasi satwa dilaksanakan di Buffer Zone Hutan Lindung Bukit Kerai Kundang yang berbatasan dengan Blok RKT 2025 CO dan Blok RKT 2026 sebanyak 9 petak sampling dengan total plot ukur 450 PU dan panjang transek 9 Km, dengan hasil sebagai berikut: Jumlah jenis vegetasi tingkat pohon (tree) 65 jenis, tiang 44 jenis, pancang 41 jenis, semai 38 jenis dan semua tingkatan 65 jenis. Sedangkan potensi atau kerapatan vegetasi komersil tingkat pohon 50 btg/Ha, tiang 118 btg/Ha, pancang 1.178 btg/Ha dan semai 5.906 btg/Ha sehingga semua tingkatan vegetasi telah memenuhi syarat kecukupan permudaan tegakan tinggal yaitu jumlah pohon komersil minimal 25 batang/Ha, tiang 75 btg/Ha, pancang 240 btg/Ha dan semai 1.000 btg/Ha. Berdasarkan nilai INP jenis vegetasi yang sangat berperan / berpengaruh di komunitasnya dari tingkat pohon sampai dengan semai adalah jenis meranti merah, medang, ubar dan pisang-pisang, sedangkan jenis lainnya turut mendominasi (sangat berperan) pada sebagian tingkatan vegetasi namun tidak keseluruhan. Indeks Dominasi (C) vegetasi tingkat pancang dan semai, pola penyebaran jenis lebih terpusat/mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis saja, sedangkan vegetasi tingkat tiang dan pohon pola penyebaran jenisnya lebih tersebar, tidak terpusat/ mengelompok dengan kata lain dominasi vegetasinya secara bersama-sama oleh beberapa jenis. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) atau Biodiversity pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai H’ > 3 termasuk kategori Tinggi, artinya keanekaragaman jenis vegetasinya sangat banyak dalam komunitas vegetasi. Indeks Kemerataan / Kelimpahan (Equtability / Evennes) atau (E) pada semua tingkatan vegetasi mulai dari pohon, tiang, pancang dan semai memiliki nilai E > 0,6 termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis pada semua tingkatan vegetasi tersebar merata dalam komunitas. Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1) semua tingkatan vegetasi dari tingkat pohon, tiang, pancang dan semai termasuk kategori Tinggi, artinya kekayaan jenis vegetasinya banyak didalam komunitas. Jenis–jenis vegetasi yang dilindungi oleh peraturan nasional-GoR (PP.7 dan P.106) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 16 jenis, terdiri dari 15 jenis yang dilindungi IUCN (1 jenis CR, 1 EN, 13 VU), tidak ada jenis dilindungi CITES dan 1 jenis dilindungi berdasarkan PP.7 atau GoR. Jenis vegetasi berkayu dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis terdapat 1 jenis yaitu mayau (Shorea palembanica) dari famili Dipterocarpaceae dengan INP > 1. Jumlah jenis tumbuhan buah sebagai sumber pakan bagi satwa liar ditemukan sebanyak 28 jenis atau 43% dari total 65 jenis vegetasi. Jumlah jenis vegetasi nir-kayu jenis anggrek 9 jenis, palem 8 dan kantong semar nihil. Sedangkan kerapatan atau potensi vegetasi pada anggrek 14,67 N/Ha, palem 6,44 N/Ha dan kantong semar nihil. Jenis anggrek didominasi 5 jenis yang sangat berperan yaitu anggrek hitam, anggrek tebu, anggrek bintang, anggrek bawang dan bayungan sisandah, sedangkan palem dikuasai 5 jenis yaitu rotan manau, rotan sega, daun payung/daun sang gajah, rotan umbut dan rotan kumis harimau / lilin. Indeks Dominasi (C) pada anggrek dan palem menunjukan bahwa pola penyebaran vegetasi jenisnya lebih terpusatkan atau mengelompok atau dominasi vegetasi lebih terkonsentrasi pada satu jenis. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) / Biodiversity pada anggrek dan palem memiliki keanekaragaman jenis kategori Sedang artinya mempunyai keanekaragaman jenis yang cukup banyak dalam komunitas vegetasi. Indeks Kemerataan Jenis / Kelimpahan Jenis (E) (Equtability / Evennes) jenis anggrek dan palem mempunyai nilai kemerataan atau kelimpahan jenisnya termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis anggrek tersebar merata dalam komunitas vegetasi. Indeks Kekayaan Jenis (Richness) dari Margallef (R1) vegetasi anggrek dan palem termasuk kategori Rendah, yaitu sedikit jenisnya di dalam komunitas vegetasi. Jenis-jenis vegetasi nir-kayu yang dilindungi oleh peraturan nasional-GoR (PP 7 dan P.106) maupun dunia internasional (IUCN dan CITES) terdapat 8 jenis, terdiri dari 6 jenis anggrek dan 2 jenis palem. Ke 8 jenis yang dilindungi GoR yaitu 1) anggrek bulan Kalbar (Paraphalaenopsis serpentilingua), 2) anggrek ekor tikus/bulan bintang (Paraphalaenopsis denevei), 3) anggrek hitam (Coelogyne pandurata) 4) anggrek jingga (Renanthera matutina), 5) anggrek sendok (Spathoglottis zurea), 6) anggrek tebu (Grammatophyllum speciosum), 7) daun payung / daun sang gajah (Johannesteijsmannia altifrons), 8) bindang (Borassodendron borneensis), sedangkan 1 jenis dilindungi CITES dan GoR yaitu anggrek ekor tikus/bulan bintang serta tidak ada yang dilindungi IUCN. Jenis vegetasi nir-kayu dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis tidak ada. Identifikasi satwa keseluruhan terdapat 54 jenis terdiri dari 20 jenis mamalia, 23 jenis burung dan 11 jenis herpetofauna, dengan estimasi densitas satwa keseluruhan 10,60 individu/Ha terdiri dari densitas mamalia 4,30 individu/Ha, burung 5,67 individu/Ha dan herpetofauna 0,63 individu/Ha. Indeks Keanekaragaman Jenis (H’) semua kelompok satwa dari mamalia, burung dan herpetofauna serta keseluruhan satwa termasuk kategori Tinggi, artinya jumlah jenis satwa sangat banyak keanekaragaman jenisnya di dalam komunitas hutan. Indeks Kemerataan Jenis (E) semua kelompok satwa dari mamalia, burung dan herpetofauna serta keseluruhan satwa termasuk kategori Tinggi, artinya jenis-jenis satwa hidupnya tersebar merata dalam komunitasnya di dalam areal hutan. Indeks Kekayaan Jenis (R1) dari kelompok mamalia dan burung serta keseluruhan termasuk kategori Tinggi, artinya kelompok satwa tersebut sangat kaya jenisnya dalam komunitas, sedangkan pada herpetofauna termasuk kategori Rendah, artinya kekayaan jenis cukup sedikit yang tercatat pada komunitas di dalam areal hutan. Jumlah keseluruhan satwa yang dilindungi berdasarkan jenis ada 38 jenis yaitu pada kelompok mamalia 18 jenis (terdiri dari 9 jenis dilindungi IUCN, 9 jenis dilindungi CITES dan 16 jenis dilindungi GoR); kelompok burung 14 jenis (terdiri dari 7 jenis dilindungi IUCN, 7 jenis dilindungi CITES dan 12 jenis dilindungi GoR); kelompok herpetofauna 6 jenis (1 jenis dilindungi IUCN, 6 jenis dilindungi CITES dan 1 jenis dilindungi GoR). Sedangkan berdasarkan peraturan nasional dan international, terdapat 17 jenis dilindungi IUCN, 22 jenis dilindungi CITES dan 29 jenis dilindungi GoR (terdiri dari 27 jenis dilindungi PP.7 dan 21 jenis dilindungi P.106). Jenis satwa dengan status perlindungan IUCN kategori CR (critically endangered) atau kritis terdapat 2 jenis yaitu orangutan (Pongo pygmaeus wurmbii) dan rangkong gading/tajak (Rhinoplax vigil).